Minggu, 20 September 2009

Seputih di Hari Nan Fitrie

Balgis Muhyidin

Andai boleh kupinta hari
‘tuk selalu
Seputih hari nan fitrie

Agar ada maaf
Untuk semua kealphaan
Dari kodrat insani

Kuucap namaMU
Di hembusan surgawi Ramadhan
Seindah kalam yang telah KAU janjikan

KarenaMU
Kumencoba melintasi hari
Mencoba mengendalikan diri

DipintuMU
Aku mengetuk
Meski aku terseok dengan beban pertanyaan yang sulit terjawab

Pintaku
Putihkan hatiku ‘bak salju
Setelah perjalanan yang melelahkan
Agar bisa kuberikan senyum
Meski luka tertorehkan

KarenaMU
Kutahu, kumampu

KarenaMU
Genderang bedug takbir mengalun merdu

Tulisan diatas saya buat sekitar 13-14 tahun yang lalu. Saya bagikan pada teman-teman Indonesia saya yang kebanyakan waktu itu berada di Paiton Project. Teman sekretaris yang tidak sekantor dengan saya bercerita, bahwa salah satu Engineer di perusahaannya sampai bertengkar dengan istrinya gara-gara tulisan tersebut. Istrinya bertanya, kenapa tulisannya sangat personal banget, dia punya hubungan apa dengan si penulis/ pengirim hingga tulisan itu harus nyampe ke rumah mereka.

Saat itu saya cuek saja, karena tulisan itu juga saya berikan kepada sekitar lima puluh teman lainnya, yang merayakan Idul Fitri. Sahabat dan teman bagi saya sangatlah special, canda dan tawa kami bagi bersama. Namun, mereka semua sama tiada beda. Saya menyayangi mereka, itu aja. Menurut saya, tulisan itu adalah bentuk kecintaan saya padaNYA, bukan pada seseorang. Itu alasan saya waktu itu, pendeknya ‘emangnya gue pikirin?’.

Namun saat ini saya memikirkannya. Siapapun wanita itu (istri engineer itu) jika dia membaca tulisan ini, dari relung hati yang terdalam saya memohon maaf. Niat saya waktu itu (menurut saya) didasari niat baik, membagi cinta saya padaNYA kepada sahabat-sahabat saya. Mendapatkan cintaNYA, dengan meniti tangga maaf dari orang-orang disekeliling saya. Namun apa gunanya niat baik tersebut, jika ternyata melukai hati orang lain?

Belajar dari pengalaman tersebut, saya sadari banyak hal dalam kehidupan menghadapkan saya pada situasi dilematis. Kejadian maupun keputusan yang menurut saya ‘baik-baik’ saja belum tentu baik bagi orang lain. Dalam keseharian saya, disengaja atau tidak banyak sekali catatan-catatan tersebut mengiringi semua interaksi saya. Interaksi saya kepada sesama. Ketika saya menyandang kodrat saya, sebagai manusia. Untunglah saya diberi kesempatan untuk meminta maaf, meskipun saya setuju permintaan maaf itu tidak harus menunggu lebaran. Salah satu keindahan ritual tahunan ini adalah mengingatkan kita untuk selalu bermaaf-maaf-an. Yang kadang sering terlupakan.

Saya pernah mendapatkan sebuah kartu post yang cantik dengan tulisan: Maafin saya ya?? Score kita sekarang 0-0. Ketika itu saya menganggapnya biasa-biasa saja, emangnya sepak bola? Score 0:0? Teman saya benar, coba bayangkan jika catatan-catatan yang berisi kealphaan scorenya bukan 0:0, tapi menjadi 124765 : 190872 (kali 100 kalau kita punya teman 100 – meskipun masing-masing angkanya bisa berbeda) atau kali 1000 jika teman kita 1000 orang. Bagaimana kita bisa meraih fitri, dan hati kita kembali putih? Kembali bersih? Serasa bayi yang baru dilahirkan? Ketika catatan-catatan tersebut masih belum termaafkan? Ketika semua teman kita belum mengosongkan kekhilafan, belum menghapus semua kealphaan? Belum memberikan score nol untuk kita, dan kitapun belum memberikan score nol untuknya?

Menurut pemahaman saya, dengan memberikan score nol untuk semua kekhilafan adalah salah satu bentuk kebesaran hati. Dengan memberikan score nol, kita telah mengalahkan hasrat manusiawi kita untuk selalu mengingat kesalahan orang lain. Meluluh lantakkan ke egoan kita dan menggantinya dengan cinta, dengan kasih. Menurut saya, Islam adalah kelembutan, adalah kasih. Bagaimana bisa, kita membiarkan spons spons hati kita berdarah-darah dengan kebencian dan kedengkian dengan selalu mengingat kekhilafan dan kealphaan orang lain? Dengan score nol kita berusaha mendekati kesempurnaan fitrah kita sebagai manusia, memaafkan orang lain dan memaafkan diri sendiri.

Dalam kesempatan ini ijinkanlah saya dari segala kedunguan saya sebagai manusia yang kadang terlalu sok pintar, terlalu merasa bahwa apa yang saya lakukan selalu benar. Sehingga mengabaikan ruang-ruang lain yang sebenarnya berisi kebenaran hakiki. Terlalu sok tahu tentang kedalaman hati manusia, padahal hanya secuil pengetahuan saya tentangnya. Bagaimana saya bisa, memastikan hal yang baik untuk orang lain, manakala saya sendiri melakukan kesalahan terhadap keputusan yang saya ambil?

Bahkan kadang saya sering tidak tahu apa yang saya inginkan? Bagaimana bisa, saya memastikan seolah saya paham keinginan orang lain? Untuk itu teman, perkenankan saya meminta maaf. Agar teman-teman bisa mengosongkan lembaran-lembaran khilaf dan alpha. Agar score kita menjadi 0:0. Tapi untuk catatan yang baik, jangan 0:0 dunk….semoga semakin banyak dan banyak sehingga menjadi salah satu bekal baik kita kelak ketika mesti menghadapNYA.

Seandainya boleh kupinta hari-hari ……selalu seperti hari nan fitri….putih…bersih…

1 komentar:

  1. That's a good poetry from a lady who's busy the whole day but she still has time to devote her bright thougt of being a forgivable creature in this earth. Bravo jeng balgis, it's a nice thought.

    BalasHapus