Minggu, 24 Mei 2009

In Memoriam “Black”

Usianya belum genap 36 tahun. Ketika dia ditemukan terkapar di kamar mandi. Sudah meninggal. Ketika jenazahnya dibawa ke rumah duka, keluarganya hanya mendapatkan keterangan kalau paru-parunya gosong. Saya tidak ingin tahu lebih jauh lagi. Saya hanya ingin mengenangnya, menarik pelajaran berharga dari hidupnya. Dan semoga, bermanfaat juga untuk kita semua.

Kami memanggilnya Black, biarlah tetap saya panggil dengan Black. Namanya tidak terlalu penting untuk saya. Bagi saya, dia adalah salah satu pahlawan kehidupan. Sekitar enam tahun terakhir dia mendedikasikan hidupnya untuk mengkampanyekan ‘harm reduction’ atau penggurangan dampak buruk bagi pengguna narkoba. Khususnya narkoba suntik.

Dia ‘ditemukan’ oleh teman-teman jaringan pecandu narkoba yang sebagian dari mereka sudah menjadi ‘mantan’ pecandu. Meskipun menurut mereka, seorang pecandu selamanya akan tetap menjadi pecandu. Karena kondisi ‘relapse’ sangatlah lekat dalam keseharian kehidupan mereka. Sekali pernah menjadi pecandu narkoba, selama hidup adalah perjuangan yang tidak akan pernah berhenti, terus menerus, untuk memerangi kecanduan mereka atau keinginan nge-drug lagi.

Saya masih ingat, perkenalan kami diawali ketika dia menjadi imam shalat dengan alunan doa yang menyejukkan hati. Karena itu teman-teman juga memanggilnya Aak Black. Waktu itu dia masih belum terlalu lama bergabung di lembaga yang bergerak dalam penanggulangan HIV/AIDS. Jika teman-teman yang lain memanggil saya Mbak, dia memanggil saya dengan Bu. Sangat formal. Saya tahu itu adalah bentuk penghormatannya untuk saya, sebagaimana saya juga menghormatinya.

Secara garis besar harm reduction adalah memberikan penyuluhan kepada pengguna narkoba untuk menghentikan perilaku nge-drugnya. Jika tidak bisa maka sementara waktu mereka disarankan mengurangi kecanduannya dengan menggunakan oral drug. jika tidak bisa lakukan penyuntikan yang aman, antara lain, tidak bergantian jarum suntik, atau menggunakan jarum suntik yang sudah distresilkan.

Bagi mantan pecandu, memberikan penyuluhan kepada teman-teman mereka yang masih menjadi pecandu untuk berubah perilaku agar tidak terinfeksi HIV/AIDS, bukanlah persoalan mudah. Mereka tahu efek fly yang ditimbulkan oleh narkoba. Melihat orang lain memakai narkoba di depan mereka, sugesti itu pastilah sangat berat mereka rasakan. Namun mereka tetap melakukan pekerjaan itu. Setiap hari menemui pecandu baru atau lama, berinteraksi dengan mereka, memberikan pilihan-pilihan agar AIDS bisa mereka hindari. Black, adalah salah satu dari pahlawan-pahlawan itu. Yang mau memberikan hidupnya bagi orang lain. Meskipun artinya dia tidak berada di ‘zona aman’. Kemungkinan terjadi salah tangkap dari kepolisian bisa terjadi. Kemungkinan menjadi target bandar narkoba sangat mungkin, karena mereka dianggap mengurangi jumlah pembelinya.

Menghindari sugesti tidaklah selalu berjalan mulus dan sukses, kadang mereka tergelincir untuk mencoba lagi. Atau sebagian melarikannya ke bentuk kecanduan yang lain, salah satunya alcohol. Kepada saya Black pernah mengatakan bahwa untuk narkoba lainnya dia bisa tidak tergiur, namun sulit baginya menghilangkan kebiasaan minum minuman keras.

Meskipun demikian tanpa bermaksud membenarkan apa yang Black lakukan. Teman-teman ini adalah orang-orang yang luar biasa. Seharusnya mereka mendapatkan tanda jasa. Kemauan mengorbankan hidupnya bagi orang lain. Mereka adalah suhu-suhu bagi para pencandu. Pemberi obor kepada pecandu ketika jalan lainnya gelap gulita. Meskipun dalam perjuangan mereka kerap mesti mengorbankan diri mereka sendiri.

Black adalah manusia seperti itu. Dia tahu resikonya, dan dia tetap menjalaninya. Memberikan hidupnya.

Suatu saat, ketika hobi menjahit sang istri menghasilkan uang. Sambil mengelus kepala istrinya Black berkata” Kamu pandai cari uang, jika saya tidak ada kamu akan mampu mencari uang sendiri “. Sambil memandangi putri mereka yang berusia satu setengah tahun, istrinya menceritakannya kepada saya, berderai air mata.

Kami masih merasa kehilangan, merasa kecolongan. Saya masih merasa kehilangan. Kami merindukan senyum lebar di kulit wajahnya yang legam. Kata-katanya yang agamis, penuh tutur kata manis. Selamat jalan teman.



Surabaya, 20 Mei 2009
Tulisan ini untuk ACA putri Black satu-satunya. Kami mengenang ayahmu sebagai pahlawan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar